Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

30 Oktober 2010

live in dignity

Recent months I learn more about living in "real" neighbourhood, particularly how the chinese live. I wonder how they can survive in this tough days, when even many spaniard cannot resist. Chinese live their life as merchant, small merchant of food particularly that try to provide daily needs for people who are too busy or lazy to go to the supermarket, or provide stuffs during holidays(yes, they're never closed, unless once during general strike). In the beginning I wonder how they live against cruel supermarket price and very small captive market, but they make it. Their price is more expensive so it is unlikely that people will buy something there unless they don't have any choice, this chinese shops are really helpful actually.

Unlike other immigrants ethnic, chinese live in dignity, live upon their own business. They live really tough life, instead of obtain cheaper reseller price, they merely shop in cheap supermarket with ordinary retail price, and carefully pick the items which are in discount or membership sale program. Once I examined how one of them shop, incredible!, they check each item which are listed on the sale program one by one, take them (sometime all of these sale item).

they're great.

17 Mei 2009

great choice


Little bit late post.
Actually I really surprised with SBY decision to choose Boediono as his vice president candidate. In my opinion Boediono is non partisan. He is totally a professional who is not known in grassroot level. Observing this choice I can figure out that SBY is really confident, and likely this pair will lead this country for the next five years. I pray for them may God lead them to right path to lead this nation to better life.

Taken from BI website:

Born in Blitar East Java on 25 February 1943, obtained his Bachelor’s degree in Economics at the Gajah Mada University, Yogyakarta. In 1972, obtained his Master Degree of Economics at Monash University, Australia. Boediono obtained his Doctoral degree in Business and Economics at Wharton School University of Pennsylvania, USA 1979.

In 1996 – 1997, he was appointed s a Director of the Directorate of Rural Bank Supervision and as a Director of the Directorate of the Operational and Monetary Management in 1997 – 1998. After he spent his career in Bank Indonesia, Boediono assigned as Minister of Republic Indonesia for three Cabinet Periods namely State Ministry of National Development Planning/Chairperson of the National Development Planning Agency, Ministry of Finance (2001 – 2004), and Coordinating Minister for the Economy (2005 – 2008).

Boediono was appointed as Governor of Bank Indonesia pursuant to the Republic Indonesia Presidential Decree Number 34/P/2008. dated 15 May 2008

11 Mei 2009

Go Tik Swan

Terkejut pagi ini membaca sebuah berita ttg Radya Pustaka yang menuliskan "Go Tik Swan(almarhum)". Betapa kehilangan rasanya, terlebih kabar ini begitu terlambat, beliau meninggal 5 November 2008 yang lalu, pada usia 77 tahun.

Pertama kali mengenal nama ini di kisaran tahun 2004/2005 ketika diadakan pameran batik di aula barat. Sebuah karya beliau dipajang disana, kain pagi sore berlatar putih. Sebuah karya yg sangat indah dan tak terkira bagaimana membuatnya, garis-garis canting yang begitu bersih, tipis, dan tegas. Entah apakah masih ada orang yang bisa membuat karya seindah itu, semoga saja masih ada dan akan selalu ada.

Sugeng tindak Go Tik Swan, semoga diberi kelapangan di alam sana. Karyamu dan namamu akan senantiasa abadi.

02 Mei 2009

veronica guerin

I don't know exactly when this speech was delivered, but in the same year, 1996, she
was shot to death somewhere outside Dublin.

15 Oktober 2008

Even the Economics Guru must keep himself learning

I don't believe that he is Vincent Lingga. One of super senior imminent economics journalist, editor and [founder?] of the most respectable Indonesian english newspaper.
Even, his own article was published as special report:
In the current era of globalized financial markets, it is almost impossible for us, including me, an economics reporter for the last three decades, to have the financial literacy necessary to understand complex investment securities like the Lehman's market-linked notes peddled by Citibank Indonesia.
Not only in his working newspaper, even Kompas wrote his name as well.
Sebagai nasabah Citigold, Citibank Jakarta, Vincent Lingga, tak merasa akan terjebak kerugian Rp 450 juta. Tanggal 15 September, hari kebangkrutan Lehman Brothers, mungkin salah satu hari tergelap yang akan selalu dia kenang.
I do really honour him for his frankness, even though bitter :(. It will be a very good lesson for everyone, especially the smart asses and economics ignorants. Terima kasih Pak Vincent!

in God we trust, not His creatures
in gold we trust, not its derivatives

02 Agustus 2008

Innalillaahi wa Inna Ilaihi Raajiun..



Beliau adalah founding father masjid Salman, masjid kampus pertama di Indonesia. Biarlah tulisan ini memberikan keterangan lebih lengkap tentang beliau.
Rasanya hanya sekali saya mendengarkan ceramah langsung beliau di Salman, mungkin sebelum2nya pernah juga, tapi belum tahu tentang beliau. Great muslim! Semoga Allah menerima amalan2 beliau dan mengampuni dosa2 beliau, serta hasil perjuangan beliau dapatlah senantiasa diteruskan oleh generasi2 yang lebih muda.

*) sengaja tidak saya tulis nama beliau agar google surfer tidak terjebak ke tulisan sederhana ini.

31 Juli 2008

frankness


When everybody tends to be javanese, saying yes for maybe, saying maybe for no, and saying no when you were already backstabbed, these conversations will refresh our manner of frankness. I found something nice about frankness while reading a series of opinions on Kompas about Tan Malaka which was presented in this chronology:
1. Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional by Zulhasrul Nasir
2. Tentang Tan Malaka by Sabam Siagian
3. Darurat Perang Jenderal Sudirman by Zulhasrul Nasir

Read these phrases which are written by Sabam Siagian as corrections for Zulhasrul Nasir's opinion:
"Pertama, kutipan berikut mencerminkan bias penulis dan juga kurang menguasai fakta."
"Dalam konteks uraian historis ini, kalimat '... Maka amat disayangkan TKR saat itu lalu membunuhnya
(!? SSg) di sebuah desa di Kediri...' amat tendensius." [SSg=Sabam Siagian]
"Agaknya penulis mendukung sikap politik demikian tanpa meneliti lebih dulu pemikiran geopolitik ..."

SSg's counter opinion is truly nice, depicting his vast knowledge and understanding about the topic. It was undenied on second Zulhasri Nasir's writing, he merely wrote "ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu".

To be frankly . . . On the beginning I planned to wrote something about Tan Malaka, but I felt unconfident after reading SSg's opinion ;^(, maybe next time after I read my Harry A. Poze books, which are Indonesian version obviously. I think it is necessary to learn dutch for deciphering Indonesian history.


16 Juni 2008

kekayaan seorang dosen

Wah kalo melihat ini sepertinya menarik juga jadi dosen... hehehe.
Lihat sumbernya dari mana:
1. pinjaman bank dan koperasi
2. bantuan orang tua
romantik kali...
gimana nyicilnya ya yang pinjaman bank itu?

Rp1,1 Milyar~80.000€~$10.000, kaya juga, sapa bilang jadi dosen itu miskin...
Interval waktunya juga [a\ ]gak lama, 18 tahun, eh ini lama ya?

[ditulis saat nonton jerman vs austria yg membosankan]

17 Mei 2008

barcelona


Gemerlap Pesta Kota
Seolah Getar Flamenco Mengalun Jiwa
Kududuk Terhanyut Nuansa
Disudut Semarak Plaza Catalonia

Kala Sepasang Mata...
Menatapku Manja...
Mengajak Berdansa
Sapanya "Quiere Usted Bailar Conmigo?"

"Quiere Darme Su Direccion Senorita?"
Kuingin Kau Ajak Serta Malam Ini
"Como Se Pronucia Oh Juwita"
Ingin Kunyatakan Cinta Sepenuh Asa

[Bridge]
Mungkin Esok Kukan Pergi
Tapi Kuberjanji
Pasti Diriku Kembali
Untuk Cinta Yang Tertinggal
Dijantung Barcelona

[Reff]
Peluklah Diriku Mesra... Dalam Cinta
Sebagai Pengikat Rindu
Akan Kukenang Slalu
Cintaku Di Barcelona

"Lo Siento Mucho Senorita"
Kuharus Meninggalkanmu Sejenak Waktu
Hapuslah Airmatamu Kini
Dua Hati Tlah Terpadu Satu Janji

Usaikan Cerita
Malam Yang Tersisa
Ku Tak Kuasa Lagi
Tuk Menunda Waktu
Hidupku Bersamamu

Kecuplah Diriku Kasih... Malam Ini
Angan Yang Tergoda Resah
Srasa Smakin Gelisah
Melupakan Fajar Tiba ...

[Back To Bridge]

"Hasta La Vista Mi Amor..." Penuh Cinta
Dihariku Kan Kembali
Kan Kuingatkan Janji
Cintamu Di Barcelona

[Back To Reff]

Cintaku Di Barcelona ...
Barcelona ...

Nice song from Fariz R.M., even though I prefer the other one Sakura Dalam Pelukan. I think it was in 80's. I just know there are some spanish sentences on the lyrics, that's why I could not able to sing it completely.
First time I saw his performance in Graha Niaga building on Sudirman Jakarta, 2003, in a students art performance, our group was participating as well. He sang very good even in his age. Watching his performance made me no wonder if Sherina become a talented singer, they share a same family name Munaf. There were also Dee (Dewi RSD) and her sister(Mocca vocalist). Second time I saw a live performance of Indonesian artists, the first was Cokelat, at Plaza Widyanusantara on Palindrome Project, 2002.

Barcelona, there I'll come . . .

09 Februari 2008

bacaan waktu senggang

Setelah saya coba-coba mencari artikel yg rasanya pernah saya baca di Kompas, rasanya ada beberapa stereotype tentang artikel menarik yang layak (sangat layak) dibaca di kala senggang.

Ingin bacaan lucu, baca tulisan Rudy Badil, oknum wartawan ini termasuk gerombolan Soe Hok Gie, fotonya pun ada di "catatan harian seorang demonstran", pas merasa masih ganteng kali, makanya dipasang disana, sekarang udah tua mungkin gak pede masang foto lagi, cuma kasih illustrator, piss. Meskipun tulisan lawas, tulisannya sangat enak dibaca, bikin senyum bahkan ketawa. Kalo istilah korannya bukan hard news. Saya namakan aja Mati Ketawa cara Rudy Badil.

Bacaan rada lucu, kadang lucu, kadang berusaha lucu tapi gak lucu, mungkin karena si penulis terlalu cerdas kali dan saya ndak ngerti, baca Budiarto Shambazy. Belum sekaliber Rudy Badil sih, tapi sudut pandangnya beda.


Yang terakhir spesialis In Memoriam, Rosihan Anwar. Saya suka sekali tulisan wartawan super senior ini, meskipun mungkin subyektif, toh bisa di peer-review* dari sumber lainnya. Semoga panjang umur ya Pak!

*) peer review: kayaknya saya pernah dengar tapi apa artinya sih sebenarnya entahlah, yg penting kereen, semoga gk salah pake. Tapi masalahnya "musuh-musuhnya"(B.M Diah, Mochtar Lubis, S. Tasrif) jaman masih sama-sama jadi redaktur 4 harian paling berpengaruh di Jakarta pada jaman dulu sudah pada mendahului, jadi bakal sulit mencari peer-reviewer yang layak ditandingkah.

06 Februari 2008

Pertarungan antar Master

Sabam Siagian, hebat betul tulisan Bapak tua ini, meskipun kelakuan bikin hati panas tapi dengan berat hati harus saya akui kehebatannya. Membaca bantahannya atas tulisan Emil Salim di kompas, "Tawanan dalam Gelanggang", membuat saya semakin mengaguminya. From my deepest heart: Salut Pak!

Hal semacam ini rasanya sudah semakin langka di dunia pers Indonesia, tulisan balas tulisan, mungkin kelamaan dididik gaya street justice orba. Ya Bapak Tua ini jelas didikan Belanda sih, kasar, sarkastis, tegas; jadi ingat perbincangan dosen2 mesin di PSTK tentang dosen-dosennya dulu yang didikan belanda, betapa beratnya menjadi mahasiswa. Kalau sekarang jangankan jadi mahasiswa, lulus pun gampang! Trade off nya nyari kerja susah. Yah untung aja HRD gak sebodoh pencari kerja kerjanya, tahu aja mereka bibit-bibit unggul.

Balik ke Sabam, [punten abdi copy paste]
Bagaimana tulisan tentang superioritas ilmu ekonomi diatas ilmu politik dibantah dengan taktis dan manis.
Sebagai ekonom terkemuka, dapat dipahami jika Prof Emil Salim seperti menyindir daya mampu dan kegunaan ilmu politik. Tulisnya, ”Ilmu ekonomi menggunakan perhitungan rasional yang terukur dalam nilai ekonomi dan harga pasar sehingga bisa direncanakan kebijakan memecahkan masalah sebelum (exante) masalah tumbuh lebih besar. Ilmu politik sebaliknya bersifat kualitatif dan sulit diukur secara kuantitatif sehingga sulit membuat ramalan dan prediksi.” Taruhlah secara umum kita setuju pendapat Bung Emil ini, tetapi ada kecualian yang penting dalam hal seorang sarjana ilmu politik dan kaitan teorinya dengan situasi Indonesia. Profesor Samuel Huntington dari Universitas Harvard yang mempelajari pertumbuhan lembaga-lembaga politik di negara-negara berkembang tahun 1968 menerbitkan karya yang menjadi klasik, Political Order In Changing Societies (Yale University Press). Pada Bab 1 yang bertema Political Order and Political Decay dikemukakan teori, kesulitan yang dihadapi negara-negara berkembang di bidang pembangunan politik justru meningkat setelah mereka relatif berhasil mencapai sukses awal dalam pembangunan ekonominya. Tulisnya, antara lain, jika lembaga-lembaga sosial politik di negara-negara itu tidak ikut berkembang dan tidak mampu menampung serta menyalurkan aspirasi-aspirasi baru, yang timbul justru karena keberhasilan ekonomi mereka, terjadilah political decay, kerapuhan politik, bukan political development, pembangunan politik.


Taktis dan pas banget dengan kondisi Indonesia. Kalau mau pinter emang musti sering baca ya Pak? Hebat deh... dulu sekolahnya apa ya?

Presiden Soeharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998 karena di papan percaturan kompetisi kekuasaan, ia sudah tersudut. Semua pion telah tumbang. Agaknya terlalu simplistis untuk menghakimi Harmoko, Ginandjar Kartasasmita, BJ Habibie, dan Jenderal Wiranto sebagai Brutus yang mengkhianati Cesar tua.


Ia mundur secara mendadak pada 21 Mei 1998 bukan ”guna menghindari pertikaian lebih besar antaranak bangsa” seperti ditulis Bung Emil. Justru sebagai sikap ngambek, seperti kata orang Betawi (Jakarta) rasain lu dengan Habibie yang cenderung labil itu sebagai presiden. Seyogianya Soeharto menyiapkan proses suksesi jauh sebelumnya secara teratur dan rapi.

Bagus juga tulisan yang ini, ya meskipun kurang original, tapi masih berjiwa muda...

coño!

28 Januari 2008

Pak Jusuf Ronodipuro

Selamat jalan Pak Jusuf.

Yang kurang terekspose disaat hari kematian Pak Harto.
"Pembaca Teks proklamasi bersama Bachtiar Lubis. Sekali di udara tetap diudara adalah slogan RRI karya beliau", baru tahu saya.

Semoga ada tulisan Rosihan Anwar tentang beliau.

27 Januari 2008

sugeng tindak


petikan lirik lagu titik puspa:

Kepadamu Bapak kami Soeharto
Terima kasih dari rakyat semua
di dadamu kami sematkan
Bapak Pembangunan Indonesia

belajar mikul dhuwur mendhem jero.

23 Januari 2008

D.E.K

Web sinting buat orang sinting, buku TAOCP jilid 1, bab 1.1 aja perlu saya baca 3 bulan untuk dimengerti sebagian kecil.

The dining philosophers starve until Donald E. Knuth has been served.

08 Januari 2008

Demokrasi ala Rusia

Tumben-tumben seorang dubes mau nulis, dan mampu nulis sebagus opini kompas ini. Kereeeeen. Ternyata...

Mantan pemimpin redaksi The Jakarta Post. mantap.