Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2011

U or V

It has been long time I curious about latin words that have no 'u'-letter. I wonder how 'u' and 'v' are interchange. Finally I got the clue after I learnt Italian pronounciation. Italians pronounce 'v' exactly as 'u' in today's languange. Therefore 'u' can be eliminated just like in old latin alphabet. A concise example is the word 'university'. By pronouncing it as 'uniuersity', it will sound almost the same, thus since latin doesn't have 'u', it is written as 'vniversity'.
Apparently the same argument applies to 'y' and 'i', Yves, Ysabel and so on.
last edited:24 March 2011

01 November 2008

belajar bahasa inggris

Baru tahu ternyata bbc menyediakan layanan belajar bahasa indonesia di beritanya. Beberapa kata sulitnya dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Ada juga streaming bacaan inggrisnya buat belajar listening.

24 Agustus 2008

hanya

Kelelahan, Nova/Liliyana Hanya Raih Perak. Layakkah mereka mendapatkan kata hanya? Ingat hanya orang yang bisa sampai final yang bisa dapat perak! Hanya orang yang berhasil menang dalam semifinal, perempat final, perdelapan final dan sesi2 sebelumnya yang bisa mendapat perak. Dimana penghargaan itu?

Sangat berbeda dengan atlit negara lain ketika mereka mendapat perak, perunggu atau bahkan tidak mendapat medali sekalipun. Mereka benar-benar dihargai, memang berbeda dengan yang dapat emas, tapi tidak ada kata "hanya". Apapun yang dicapai itu adalah hasil kerja keras.. sangat keras bahkan. Lihat bagaimana team basket yang dapat perak ketika mereka naik podium, atau team renang sinkronisasi yang dapat perunggu, mereka bangga dan media negerinya membanggakannya.

Bayangkan ketika penghargaan itu disebarkan ke seluruh negeri, anak2 muda juga akan ikut menghargai, ingin jadi mereka, bekerja keras berharap mencapai prestasi mereka orang-orang yang belum berhasil dapat emas itu, berharap suatu hari bisa berprestasi lebih baik. Kita punya 200 juta orang setengah persen saja yang terinspirasi oleh penghargaan atas mereka yang dapat perak itu kita akan punya 1 juta pekerja keras yang bakal menjadi penerus mereka.
Masih ada kesempatan untuk menghargai mereka, semoga terwujud.

10 Juni 2008

Syntactic, Gramatical and Semantics

A short discussion about world language made me realized that Javanese language has move a step further than it fellows other language. Instead of bugging on gender, syntactic, conjugated verbs, and gramatical tenses, Javanese moves onto higher order level that concerns on semantics.
Analogous to programming language, isn't it? The better the language it will concern more on semantic than syntactic.
Sometimes I think what is the purpose of this gender, conjugated verb, and tenses? However tenses do not give precise time value, it is merely give an indication of already done, still in progress or will be done and many other mindboggling combinations. More over in fact for a precise meaning, a sentence must be equipped with time indication eventhough it has use tenses already, so what is the purpose of the tenses? Not every stuff has complete lattice of male and female, so why use gender noun?

Here are some example which are I often heard:
janur gunung. Janur is tunip of coconut leaves, it colour usually yellow, and used as decoration in many javanese ritual occasions. Gunung is mountain. So what is meant? The meaning is very far from those words. Since in the mountain usually there's no coconut tree that usually grow on beach, but there is a tree which is similar to, Aren. Aren has similar leaves to coconut, and it also has janur. This "aren" will form the meaning, "kadingaren" which mean more less occasionally+surprising, actually I cannot find the exact meaning in english. Usage example: Lha kok njanur gunung to Le, malem minggu sinau? "What the hell happened, you are studying in week end?
Other similar formed term is nglemah bengkah, sorry for forgetting many other. These terms are like puzzle, you must solve it and than find a corresponding possible meaning.

More beautiful words composition which are formed sophisticated pronounciacion sound easily found in "cakepan gending" (lyrics) or wayang (shadow puppets) characters conversation. Unfortunately they are not easy to be understood, particularly for Mtv generation and henceforth. Cruel competition to pursue life basic need, force young people to choose easier enjoyable entertainment and marginalizing ethnic culture which are harder to understand. Having learnt modern music for several months as long as you have money you can go to studio make a recording, and call your music as alternative genre. But having several years experience in classical ethnic music, you might got a judgement, "not enough good to be considered as bad". I think fancy language got the impact as well.
I think it is not their fault, but the failure of former generation to prepare a suitable condition. According to Maslow theorem, I think there are vast degradation of Indonesian people, from serving God, serving people into serving theirself. From serving their heart, head to serving their mouth, stomach and other physical amusement.

Actually it is not only Javanese, Minang and most Indonesian tribe language also have the same, but I'm not familiar with them. In Minang sophisticated language is usually used on special occasion such as marriage ritual and other ritual customs. Minang use their sophisticated language in a form of pantun which has particular rithm and word ending. And what about Indonesian? Actually Indonesian language try to enhance itself by any terms found in the daily life, they can be from mother tongue language terms or foreign terms. Yeah Indonesian in my opinion isn't a well formed language.

04 Maret 2008

Corteous Language


Ngendikan ngagem basa krama alus kaliyan piyantun sepuh rumaos kula langkung sae. Sawanci kula wangsul saking Jakarta sesarengan kaliyan piyantun putri sawatawis yuswanipun sami kaliyan Ibu kula, kula rumaosaken ngendikan ngagem krama langkung mriyayeni lan ndadosaken tiyang enggal percados dateng kula. Sawatawis wekdal Ibu ingkang pinarak wonten kursi caket kula ketawis mboten rumaos sekeca, mbokbilih rumaos wonten gali ingkang bade lenggah sesarengan kagem sawatawis sedasa jam. Nanging sak sampunipun kula miwiti ngendikan ngagem basa krama ketawisipun ndadosaken piyantun putri legawa, lan purun crios ngenani kulawarga dalasan putra-putrinipun. Wanci kula nyuwun priksa ngenani putra-putrinipun, piyambakipun ngendikan bilih putranipun putri sedaya lan sampun krama sedaya. Wonten ing manah kula namung ngendikan dateng badan kula piyambak, nasib. Piyambakipun ngendikan ngenani putra mantu ingkang kedah nyambut damel bidal saking griyanipun wanci enjing umun-umun, lan kedah wangsul wanci dalu jalaran margi Jakarta ingkang macet. Kula namung inggah-inggih kemawon, lha wong pancen mekaten wontenipun.

Nanging ngendikan ngagem krama menika kok nggih mboten sekeca, awrat sanget tumrap lare enem kados kula menika. Kedah mikir wonten ing sawatawis wekdal menawi badhe ngendikan.

It takes longer time to write on this (faulty)corteous language than in (faulty)barbaric english.

26 Desember 2007

Katakan "Indonesian"

Entah sejak kapan bahasa Indonesia diterjemahkan ke bahasa inggris jadi bahasa. Pertama saya dengar dari teman yang wawancara di perusahaan minyak "what language do you prefer?" "Bahasa", jawab teman saya. Alamak..

Udah tradisi dicolong malaysia, masih pula nyontek ke malaysia. Biarlah malaysia saja yang menerjemahkan bahasa malaysia sebagai "bahasa". Kenapa kita musti ikut-ikutan.

Indonesia punya sejarah kesusastraan yang awesome, sejak dahulu sastrawan Indonesia sudah menulis dengan bahasa Indonesia, beda ama sastrawan malaysia yang nulis pake inggris. Eh lah, orang indonesia sekarang malah gak pede, ngikut malaysia pulak, menerjemahkan bahasa Indonesia jadi "bahasa".

Mari teman/bapak/ibu/saudara/i, terjemahkan bahasa Indonesia sebagai "Indonesian".

Sekali lagi Indonesian.