Tampilkan postingan dengan label pertiwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertiwi. Tampilkan semua postingan

17 Juli 2011

education

Another entry about this. Inspired by last speech of BKPM chief in our embassy. Quite glad to know a high level officer who has a far vision on education. In fact he found a foundation on this vision as well.

I hope similar vision can flourish across my country, meanwhile a very bleak view of pseudo-educated people is so apparent, people who have only diplome without outstanding skill or knowledge.


And Rendra's poem "menghisap sebatang lisong (1978)" suddenly strucks my mind.

12 Juli 2011

Dignity of a nation

Terrible news storm Indonesia about execution by beheading of a domestic migrant worker in Saudi Arabia(KSA). Public anger sparks and then soon our cripple government issued illogical excuse on how it could happen. Government irresponsibility even so apparent when the officers blame each other just to secure their position. Marty the foreign minister even gave a totally lie statement that KSA apologized for not informing the beheading. This claim immediately denied by KSA. What a shame! I wonder how dare Marty was to lie about other country formal statement.

The shame story did not stop there. Government gave very slow response, that instead of real action to give immediate protection to other workers, the president formed a commission of taskforce and a decree to halt migran workers export starting on August. A faster reaction was given by KSA, they stop issuing working visa starting from July.

Where's our dignity as a nation? It is really a pity to have cowards as our representatives.

Weak leaders may affect many aspects of citizen life. Mostly in negative sense, particularly when engage with foreign interest. A terrible example occured in WW2 where French navy was slaughtered by British one. They actually were friends, but due German occupation of France, and Britain must secure their land from sea invasion, Britain must compromise strong French navy. Unfortunately French admiral did not react immediately. They engaged in northern africa sea and thousand French navy died. If french admiral were a confident man, he would order his men to surrender so then they could fight back Germany, side by side with British.
Si, somos indignados!

03 Juni 2011

inflation

More than 10 years ago GusDur raised public employees salary 100 percent. Apparently with 10 percent inflation each year, after more than 10 years the actual value of public employee salary is lower than 10 years ago before the salary was increased.

Let's see this illustration,
since the inflasion is 10 percent per year, so each year the actual value of the salary is merely 90 percent of the previous year. So in 10 years the actual become
a is amount of salary before Gusdur
b is salary after Gusdur raise it
c is current value of salary.
b = 2 x a
salary value of one year after raised
s1 = 0.9 x b
salary value of two years after raised
s1 = 0.9 x 0.9 x b
salary value of n years after raised
s1 = 0.9 x ... x 0.9 x b = 0.9 ^n x b
so after 10 years
c = 0.9 ^10 x b = 0.35 x b
since a = 0.5 x b thus c is less than a,
thus it is lower than actual value before GusDur raised the salary. To conclude it is not better if it not worse than the value in new order era.

It was pretty unproductive last month! There were three potential entries that in very slow progress. Or is it a sign that I was doing something more productive? :D

06 Maret 2011

retrospect

Akhir-akhir ini sering mendengarkan kuliah singkat beberapa peneliti dari berbagai bidang ilmu komputer. Sangat menarik, membuka wawasan dan sangat mengesankan. Namun jika mengingat kondisi tanah air hal semacam ini hanya membuat sedih saja. Ingin rasanya menjadi seperti mereka, namun sepertinya tidak mudah lagi, mengingat keterbatasan background knowledge yang dimiliki, dan berbagai hal lain yang sepertinya merupakan pembenaran akut atas berbagai kemalasan dan kegagalan.

Ketika kuliah S1 saya cuma mediocre yang harus rajin konsultasi kepada para master untuk bisa dapat nilai baik, sehingga saya tahu betul betapa cerdasnya teman2 saya yang lebih pintar. Andai mereka berdiri di depan ruangan seminar menjelaskan penelitiannya, atau duduk mendengarkan kemudian setelah seminar saya bisa tanya mereka seperti masa kuliah dulu. Kadang saya berharap alangkah beruntungnya jika nanti anak2 kita dididik teman2 kita yang cerdas2 itu dan negeri ini dipimpin oleh mereka. Sayangnya dunia nyata tidak selalu menghargai kesetiaan para pencinta ilmu pengetahuan. Tuntutan kebutuhan dan lingkungan membuat mereka harus bekerja untuk Boston, McKinsey, accenture, E&Y, Total, Chevron dan sejenisnya. Walaupun ada pula yang spartan tapi jumlahnya tak seberapa. Beruntung jika jika spartan ini dari kalangan berada, tapi rasanya terlalu berat jika mereka dari kalangan masyarakat biasa.

Mungkin dengan program semacam ini bisa menghibur teman2 yg cerdas ini walaupun cuma sekedar sebuah foto mereka di depan menara eifel atau pisa di profile jaringan sosial. Membuka harapan bahwa kecintaan mereka pada ilmu yang mereka tekuni ada yang menghargai. Siapa tahu nanti mereka akan mewarnai lembaga2 akademik/riset dunia dan 10-20 tahun lagi memanggil adik2 kelasnya untuk bekerja sama, seperti yang dilakukan orang-orang India dan Cina, dimana 20-30 tahun lagi adik2 kelas itu bisa jadi anak2 kita.

06 Juni 2010

service bagus telkom speedy


Hari itu pas hari minggu, hujan deras. Pas mau magrib internet gak jalan.
Telpon ke customer service telkom disuruh restart dsb, tapi tetap
saja tidak jalan. Akhirnya dijanjikan akan dicek ke rumah.

Sekitar jam 7 malam, beneran ada petugas yang datang, ngecek koneksi dsb.
Eh ternyata memang koneksi ADSL nya yang lepas di central stationnya.
Mas petugasnya nelpon temannya yg bagian jaringan dan akhirnya dibenerin
di centralnya.
Salut.. hari minggu malam2 hujan deras pula. Salut telkom speedy.

Sejauh ini hanya itu saja masalah yg terjadi, speed ke lokal baik2
selalu, sekitar 300kbps. Begitu ngakses di luar IIX.. mampus deh..
tapi masih acceptable. berikut screen shotsnya:











Ini speed waktu download package dari shol.vlsm.org

16 April 2010

Environment kills the mind

h o p e


This word apparently lost from today's vocabulary, or the meaning has been changed in such a very narrow way. The antecedent of this is terrible. No hope is caused by no believe. It is a disaster on "religious" society.

Living in such kind of society is really strange. They worship God, believe in him, but in the real life they act the contrary. Idealism is dead.

It's easier to go, it's so much easier to run.

But I won't run!

Given the choice between the experience of pain and nothing, I would choose pain. William Faulkner


05 Juni 2009

Hambatan Struktural dalam Pendidikan


Sebuah postingan menarik tentang "Beasiswa ITB untuk Semua", yang membuktikan bahwa pintar saja tidak cukup untuk menikmati kuliah. Masih ada banyak
halangan struktural yang menghambat bahkan menghentikan kesempatan anak bangsa melanjutkan pendidikan tinggi. Dalam kisah berikut ini saja saya temukan antara lain:
1. Lingkungan yang belum sadar akan perlunya pendidikan. Tidak adanya dukungan lingkungan atau bahkan cemoohan dari lingkungan akan membuat siswa sepintar apapun kehilangan motivasi.
2. Keperluan surat-surat legal. Hal ini merupakan dampak atas kurangnya pengetahuan orang tua, kondisi ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang jauh dari pusat administrasi pemerintahan.
3. Kemampuan ekonomi orang tua.
4. Lokasi tempat tinggal

Dengan berbagai hambatan tersebut diatas jelas bisa membuat kandidat mahasiswa berkecil hati, putus asa dan berhenti. Namun dengan bimbingan, pengorbanan dan usaha orang-orang yang mau dan mampu hambatan tersebut bisa sirna. Hanyalah keajaiban yang bisa membuat siswa-siswa ini keluar dari belenggu lingkungannya, disinilah diperlukan keberadaan pihak lain yang mau dan mampu mewujudkan mimpinya. Saya yakin sebenarnya banyak orang yang mau membantu tapi tidak mampu, ataupun mampu membantu juga tapi butuh teman seperjuangan. Kemauan dan kemampuan hanya akan jadi angan-angan jika tidak dikelola dengan baik, namun ketika hal kecil-kecil itu bisa dikelola sebuah karya besar akhirnya bisa tercipta.

Berikut ini kisahnya: (saya copy paste dari sebuah milis)

Ditulis oleh Sri Pujiyanti
ITB untuk Semua: The Experience


Ketika Lemet mengajak saya untuk terlibat di program beasiswa ini, saya
tidak menyangka bahwa akan semenguras emosi seperti ini. Saya pikir, ini
akan jadi sebuah pengalaman yang biasa-biasa saja.

Akan tetapi, ternyata pengalaman yang saya rasakan berbeda. Saya ikut
terlibat, berkali-kali menangis dan tertawa ketika anak-anak itu menangis
dan tertawa. Padahal saya tidak kenal mereka.

Dimulai ketika proses seleksi dan saya harus membaca aplikasi sekitar 100-an
buat dinilai. Reaksi saya beragam terhadap aplikasi yang saya baca. Kadang
saya marah, karena saya merasa si anak tidak melakukan apa-apa kecuali
mengeksploitasi kemiskinannya (please..ini bukan ajang reality show..),
kadang saya ikut menangis dan ikut marah. Kesedihan dan kemarahan terhadap
sistem yang seringkali terbaca di aplikasi itu. Anak-anak perkasa yang
membuat saya malu karena saya-dibandingkan mereka-terasa begitu lemah.
Kemalangan yang sering saya rasakan terasa tidak sebanding dengan mereka.
Rata-rata memuja ITB. Ketika kemarin saya bilang, pada seorang anak peserta
beasiswa yang ke Bandung, bahwa ITB tidak seharusnya semahal ini, dia
menatap saya, dan berkata, wajar, dengan kualitas seperti ITB...dan saya
balik menatap dia dengan sedih, tidakkah ketika perguruan tinggi yang
harusnya memberikan tempat buat semua orang yang memiliki kapasitas kini
diembel-embeli juga kemampuan secara finansial sudah merenggut harapan akan
perubahan masa depannya? Si anak itu tidak menyadarinya, bahwa negara sudah
bersikap tidak adil padanya...

Naik turunnya emosi saya kemudian benar-benar terjadi ketika proses
pengumpulan 200 siswa SMA terpilih untuk mengikuti proses seleksi USM di
Bandung. Saya bertugas menghubungi 12 anak untuk memastikan perjalanan
mereka lancar sampai Bandung. Rata-rata mereka antusias. Ada yang cemas
karena tidak mau naik pesawat. Ada yang saya sampai harus membujuk ayahnya
supaya melepaskan anak perempuannya sendiri pergi ke Bandung dari Belitung
yang jauh, dan beliau menelpon saya setiap menit setelah anaknya berangkat,
ingin tahu kabarnya. Ada yang cerewet dan tidak berhenti bertanya. Ada yang
tidak ditemukan. Satu anak. Adi Wijaya. Di sebuah daerah antah berantah di
Lampung Selatan. Tidak ada telpon, tidak ada internet. Saya bingung.
Kesempatan ini tidak boleh dibuang. Untungnya, pada saat-saat yang mepet,
Febi (alumni Gea 94) menghubungi Rezi dan Mbak Nunik, pasangan suami istri
alumni Fisika 93, dan pada malam keberangkatan ke Bandung, berangkatlah
mereka dari Bandar Lampung ke Lampung Selatan mencari Adi Wijaya. Satu
kampung diubek-ubek. Alamatnya tidak jelas. Akhirnya, Mbak Nunik 'menyeret'
sang kepala desa' mencari, dan pukul lima sore, mereka berhasil menemukan
Adi WIjaya yang kebingungan. Tes USM? Ke Bandung? Saya bilang, tiket bis ke
Bandung di Bandar Lampung sudah menanti. 4 temannya yang lain sudah
menunggu. Adi, dengan perbekalan seadanya dan persyaratan yang belum
lengkappun, dikirim Mbak Nunik pukul setengah delapan naik bis ke Bandung.
Wow, ketika dikabari Mbak Nunik bahwa mereka berhasil menemukan Adi, saya
kagum dan merasa, wow..kalau alumni ITB ini bersatu, apa yang tidak bisa
mereka lakukan ya?

Ketika mereka mendaftarkan diri, mulailah masalah itu dimulai. ITB
sebenarnya sudah menyediakan waktu khusus untuk mereka sehingga tidak harus
berdesakan dengan 2000-an peserta lain yang membayar 800 ribu, akan tetapi
miskomunikasi yang terjadi membuat semua orang pontang panting. Tiba-tiba
syarat tes buta warna yang sebelumnya tidak mengemuka muncul. Sempat muncul
kepanikan gimana caranya 200 anak harus tes buta warna dalam waktu dua jam?
Akhirnye beberapa relawan menggiring anak-anak itu ke poli ITB. Karena hari
itu hari Jumat, dan jam 11 tutup, kemudian sebagian digiring ke Boromeus.
Anak-anak itu jalan kesana kemari, kelelahan. Tiba-tiba ada kabar bahwa
loket akan tutup pukul 11 dan anak-anak yang belum mendaftar sampai pukul 11
tidak akan diperbolehkan ikut tes keesokan harinya. Kami semua tercengang.
Langsung beberapa orang mengangkat telpon mencoba mengulur waktu. Pak DL pun
langsung muncul, mencoba membantu melonggarkan peraturan. Akhirnya, waktu
diperpanjang, tapi tes harus beres. Jadilah kami semua berjalan
rektorat-poli Salman-Boromeus tidak berhenti.

Belum selesai. Muncul isu bahwa kartu UN tidak bisa dipakai. Harus surat
keterangan mengikuti UN dari sekolah. Paniklah anak-anak yang tidak
mempunyai surat itu. Adi, yang datang ke Bandung cuma berbekal surat
keterangan domisili dan kartu UN, hampir menangis di loket. 'Mbak, saya ga
boleh daftar,' dia berbisik pada saya dengan wajah bingung. Bapak petugas
kemudian menjelaskan peraturannya. Saya mengangguk, kemudian bercerita
tentang kisah Adi. Si Bapak lalu sepakat, ok, tapi difax ya surat yang belum
lengkap? Adi menggeleng, 'Tidak bisa, Pak.' Si Bapak bertanya.'Masa fax aja
ga ada?' Si Adi dengan tercekat berkata,'Disana bukan Bandung, Pak...'. Saya
menendang kakinya. Sanggupi saja. Nanti kita urus. Adi kemudian mengangguk.
'Iya Pak, nanti saya coba'. Ketika dia kemudian saya tawari makan, dia sudah
ceria lagi.

Perlahan-lahan urusan mulai beres. Anak-anak yang kelelahan mulai makan,
tapi masih semangat. Ketika setelah makan Adi kembali lagi ke loket, tidak
berapa lama kemudian dia kembali lagi ke saya dengan wajah kembali
sedih.'Katanya ga boleh, mbak.' 'Lho, tadi?" "iya, sekarang katanya ga
boleh.'

Saya mulai naik darah.'Kenapa ga boleh?' 'Karena katanya sudah dikasih tau
sebelumnya bahwa harus ada akta kelahiran. Kalau sekarang ga ada akta, ga
boleh.' 'Tapi kan kamu TIDAK TAHU SEBELUMNYA. Surat dari ITB tidak sampai.
Dan kamu cuma punya waktu dua jam buat mempersiapkan diri.' Tiba-tiba saya
ingin menangis. Menatap wajah anak itu, yang bingung, sedih, marah, saya
merasa jadi dirinya, yang hidupnya, nasibnya, dipermainkan sebuah sistem.
Apa tidak ada kebijakan? Tiba-tiba ingat kata-kata kakak ipar saya yang anak
psikologi.'Anak eksakta kan begitu. Kaku. Kadang esensinya ga jelas.' Dan
saya seperti menemukan kebenaran kata-kata itu pada saat itu.'Gimana dong,
Mbak?' 'Balik lagi ke sana.' 'Ga boleh, mbak.' Lalu saya bertanya pada
panitia lain,'Kok ITB ketat sekali sekarang? Dulu saya ga disuruh
menyerahkan akta asli' Seseorang menjawab.'Joki.' Saya menyembur dengan
kesal.'Lihat dong wajahnya. Apa dia bertampang bisa bayar 5 juta buat joki?
Dia bukan MEREKA. Anak-anak yang entah dirinya entah orang tuanya, ingin
masuk ITB dengan segala cara. Saya kemudian meminta seorang teman, yang
setau saya pandai membujuk (:D) untuk menemani Adi. Saya marah. ingin
nangis. saya harus pergi dari sini. ketika endah menelpon saya dan bilang
salah satu anak asuhannya rusak kacamatanya, saya kemudian memilih menemani
anak itu mencari optik.

Ketika jam 5 saya kembali ke lapangan aula barat, adi masih belum terlihat.
juga charly, teman saya itu. saya gundah. saya tanya seorang teman,'gimana
adi?' 'belum, masih dilobi.' saya tambah tidak enak badan. seorang teman
berusaha menghibur dan bilang.'itu yang paling baik buat adi.' saya
menggeleng.'dia mungkin akan sukses tanpa ITB.' saya menggeleng lagi.kenapa
harus begitu sulit untuk anak-anak seperti dia? hidup sudah cukup sulit buat
mereka. apalagi yang harus mereka buktikan pada Tuhan sehingga Tuhan memberi
mereka ujian lagi? saya akhirnya memutuskan pulang. mampir dulu ke
penginapan anak-anak itu, memastikan konsumsi makan malam beres. lalu
pulang. di jalan saya meledak. menangis sepanjang jalan. suami saya
menelpon. dan dengan diiringi isak tangis sayapun bercerita. saya marah,
seperti inikah seharusnya ini berakhir? seperti inikah potret manusia
kebanyakan di negeri ini? akta kelahiran yang dua ratus ribu pasti sulit
untuk sebagian orang. seperti inikah keadilan di negeri ini?

saya tahu kalau saya sudah terlibat emosi terlalu dalam, sayapun berusaha
mengambil jarak. bermain dengan anak-anak saya. walaupun saya tahu, saya
masih berpikir tentang anak satu itu. ketika lemet mengsms bahwa semua
peserta telah beres pendaftarannya, saya cuma mengsms balik dengan satu
kata.'adi?'

alangkah leganya ketika lemet menjawab.'adi aman'. saya mulai tersenyum.
duhh...padahal dia bukan anak saya. saya tidak kenal dia. kenapa saya harus
ikut tersenyum dan menangis bersama dia?

ketika pagi harinya saya harus ke kampus mengantarkan satu anak yang tidak
berseragam-mencari dulu seragamnya-daerah seputar itb sudah penuh sesak.
mobil-mobil bersesakan. dan entah kenapa saya marah. sebal melihat mereka
yang dengan seenaknya menaruh mobil dimana saja, bahkan di tempat yang ada
larangan parkir, hanya karena mereka punya mobil, mereka butuh parkir, dan
anak mereka mau ujian (saya lupa, saya juga bawa mobil...:D tapi saya
rasanya tidak pernah seenaknya). saya marah melihat anak-anak yang dikawal
kedua orangtua dan adik-adiknya menjinjing tas mahal dan mungkin keluaran
bimbel paling canggih melangkah masuk kelas (saya tahu, saya mulai jadi
rasis...padahal mungkin suatu saat saya akan bersikap seperti itu pada anak
saya). saya sedih melihat anak-anak saya, 200 anak itu, harus jalan dari
rektorat ke itb karena jalan macet dan bis tidak bisa lewat. wajah mereka
lelah. mereka tidak mampu ikut bimbel yang harganya selangit. sepatu mereka
pinjaman sehingga longgar dan melecetkan kakinya. saya tidak suka bahwa ITB
tidak mempedulikan kenyataan bahwa pengguna jalan lain terganggu dengan
kemacetan itu. Saya terjebak macet 2 jam dari gelapnyawang ke rektorat yang
kalau ditempuh dengan jalan kaki hanya 5 menit. Apakah itu sebuah tolok ukur
yang harus dibanggakan? Berapa panjang kemacetan karena ujian ITB? Bisa
dibandingkan dengan berapa kilometer antrian orang ingin membeli sepatu
crocs? Apakah ITB sudah direduksi sedemikian rupa sehingga hanya menjadi
barang konsumsi? Seperti sebuah sepatu? Siapa yang punya uang dia yang
dapat?

Ketika sore sebelumnya fani tiba-tiba jadi danlap dan menyerukan salam
ganesha yang legendaris itu-anak-anak itu bersemangat mengikutinya-saya
tiba-tiba merasa berada di tanah asing. saya merasakan campur aduk.
ah...pengalaman yang memperkaya. mudah-mudahan anak-anak perkasa itu
mendapatkan jalan yang paling baik. dan saya, yang disentuh oleh mereka, mau
berbuat sesuatu.

-untuk 200 adik-adikku yang hari ini mengikuti ujian, saya mendoakanmu
dengan tulus. jadi orang yang baik ya. itu yang paling penting. suatu saat,
kamu bisa membantu 200 orang yang lain. dan buat para relawan yang bekerja
tanpa dibayar, tidak dikasi makan, dan tetap semangat 24 jam, two thumbs
up!!!!-

yang juga harus dicatat disini adalah kegigihan para relawan yang tidak ada
duanya. ada yang sampai nyari sendiri ke rumah si anak...febi yang
menggunakan jaringannya (maksudnya, teman dan adiknya) buat mencari
anak-anak yang belum ditemukan, ben yang sampe googling the earth dan
menelponin tiap rumah di satu kompleks untuk sampai ke anak yang dimaksud,
mbak nunik dan rezi yang bela-belain banget. ada yang bayarin peserta dari
kantong sendiri...sungguh memberikan harapan ketika orang-orang mengeluh
pada saya bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk membantu lebih banyak
(atau marah karena mereka tidak bisa membantu!). dan kepeduliannya itu. febi
yang selalu nanya, si adi gimana? (padahal bukan anaknya...). Mbak Nunik
yang berkali-kali menelpon setelah mengirim Adi memastikan anak itu
baik-baik saja, dan kemudian membantu membuatkan surat kelahiran yang baru.
with angels like you (yah, kalian semua volunteer yang tidak saling kenal
tapi teuteup cengengesan)...the world seems a better place...

17 Mei 2009

great choice


Little bit late post.
Actually I really surprised with SBY decision to choose Boediono as his vice president candidate. In my opinion Boediono is non partisan. He is totally a professional who is not known in grassroot level. Observing this choice I can figure out that SBY is really confident, and likely this pair will lead this country for the next five years. I pray for them may God lead them to right path to lead this nation to better life.

Taken from BI website:

Born in Blitar East Java on 25 February 1943, obtained his Bachelor’s degree in Economics at the Gajah Mada University, Yogyakarta. In 1972, obtained his Master Degree of Economics at Monash University, Australia. Boediono obtained his Doctoral degree in Business and Economics at Wharton School University of Pennsylvania, USA 1979.

In 1996 – 1997, he was appointed s a Director of the Directorate of Rural Bank Supervision and as a Director of the Directorate of the Operational and Monetary Management in 1997 – 1998. After he spent his career in Bank Indonesia, Boediono assigned as Minister of Republic Indonesia for three Cabinet Periods namely State Ministry of National Development Planning/Chairperson of the National Development Planning Agency, Ministry of Finance (2001 – 2004), and Coordinating Minister for the Economy (2005 – 2008).

Boediono was appointed as Governor of Bank Indonesia pursuant to the Republic Indonesia Presidential Decree Number 34/P/2008. dated 15 May 2008

why?

What's the matter with PKS? Several days ago they made a reactive response to SBY decision to choose Boediono as his vice president candidate. The respons was given by Anis Matta. Some more reactive response even suggested PKS to leave coalition with Demokrat.

Yesterday, in SBY-Boediono candidacy declaration their party leader attended it and vowed this party support to SBY decision. Today I got even more strange news said that the SBY-Boediono speech during their candidacy declaration is following order from PKS. What? Come on don't make people laugh, be humble.

But I still not able to conclude anything, It is right that this a matter of image that is constructed by news, propaganda, whatever and I didn't know which one is correct and what lies behind any statements. But something struck my mind and made me lost a fragment of trust to this party.

11 Mei 2009

Subhanallah

Membaca berita antara tentang tentara yang hafal Al-Quran rasanya jadi malu, padahal punya lebih banyak waktu dan kemudahan. Sudah berkali-kali berusaha tapi kok ya tidak bisa istiqomah. Ada aja alasan untuk berhenti, sementara sulit sekali membuat alasan untuk melanjutkan lagi.

12 Maret 2009

another hidden in america

COSTA MESA, California: Greg Hayworth, 44, graduated from Syracuse University and made a good living in his home state, California, from real estate and mortgage finance.


Itulah tulisan koran IHT hari ini.

I wonder how about Indonesia?

"El crisis afecta todo el mundo", my friend said.

15 Februari 2009

dasar!

Iseng-iseng baca barackberry yg cuma seharga US$3000-an kok jadi pengen bandingin ke vertu. Di situs vertu kok justru menemukan yang lebih ajaib lagi.



Berapa banyak sih penggunanya di negara miskin semacam Indonesia, kok sampai ada bahasa indonesia segala. Ah emang tipikal negara korup!

23 Januari 2009

penjualan manusia via Entikong

Mengerikan! Polri ngapain aja?
Sebenarnya ingin saya posting linknya aja, tapi akses ke Kompas lambat banget, jadi ya dicopy apa adanya dari Kompas:

Jejak Hitam di Jalan Sutra
Jumat, 23 Januari 2009 | 02:22 WIB

Oleh Ahmad Arif

Pada satu pagi bergerimis, Kamis, 8 Januari 2009. Gerbang Pos Perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sudah ramai dijejali orang dan mobil yang bergegas hendak menyeberang ke Malaysia.

Sebuah bus antarnegara dari Pontianak menuju Kuching berhenti. Para penumpang turun untuk mengecap paspor. Namun, tak ada petugas yang mengecek penumpang yang tetap berada di bus. Sementara itu, Mobil pribadi merayap pelan tanpa dihentikan petugas. Sebagian berpelat nomor Malaysia.

Di Entikong, sebagian penduduknya memang memiliki mobil bernomor polisi Malaysia. Hanya sedikit kendaraan yang berhenti. Dan, mereka segera diserbu calo borang yang menawarkan jasa untuk mengisi formulir keberangkatan dan mengecapkan paspor ke loket imigrasi. Tarifnya Rp 5.000-Rp 10.000 per orang.

”Bahkan, kita juga bisa bawa mobil ke Tebedu, Malaysia, tanpa mengecap paspor maupun mengurus pas masuk untuk mobil,” kata Kepala Desa Entikong Markus Sopyan.

Siang itu kami membuktikan omongan Markus tersebut. Mobil bernomor polisi Kalbar yang kami tumpangi melewati pos imigrasi Entikong tanpa dihentikan petugas. Di pos imigrasi Malaysia, mobil juga bebas melenggang. Kami pun menyusuri Negara Bagian Sarawak tanpa mengecap paspor maupun mengurus izin masuk untuk kendaraan.

Jaringan antarnegara

Melalui Jalan Sutra—istilah setempat untuk jalan utama di wilayah Entikong hingga perbatasan Tebedu—itulah pada 8 Juni 2008, Santi (15)—bukan nama sebenarnya—diselundupkan ke Malaysia tanpa paspor. Siswi kelas II SLTP ini diculik ketika berangkat ke sekolah di Bandar Lampung. Dia dibawa ke Pontianak, disekap di Entikong, lalu dijual kepada sindikat pelacuran di Malaysia.

”Saya membawa dia lewat pos Entikong tanpa diperiksa. Di pos imigrasi sudah ada yang mengatur,” kata Nurdin, anggota jaringan yang bertugas membawa korban melewati pos perbatasan.

Kelonggaran pemeriksaan di gerbang perbatasan Entikong jelas mempermulus gerak sindikat perdagangan manusia antarnegara. Namun, Kepala Kantor Imigrasi Pos Lintas Batas Entikong Sugeng Harjanto membantah keras hal ini. ”Tak mungkin gerbang Entikong dijadikan jalur trafficking. Tak semudah itu membawa korban trafficking lewat pos, kami sudah melakukan pemeriksaan ketat,” katanya.

Sugeng lalu memberi data tentang 91 perempuan dan 15 laki-laki yang ditolak berangkat ke Malaysia selama tahun 2008 karena tak memiliki dokumen lengkap. Pada tahun yang sama, jumlah WNI yang melewati pos perbatasan Entikong ke Malaysia tercatat 225.831 orang.

Namun, Sugeng mengakui, pihaknya memberi kelonggaran kepada warga Entikong untuk lewat tanpa mengecap paspor. ”Imigrasi Malaysia juga melakukan hal yang sama. Staf kami sudah mengenali semua warga Entikong, biasanya mereka hanya belanja ke Tebedu. Jika mau keluar dari Tebedu tanpa paspor, pasti berisiko karena setelah di Serian ada pos pemeriksaan polisi Malaysia,” katanya.

Faktanya, banyak korban trafficking diselundupkan dengan memanfaatkan celah ini. Modusnya, korban dibawa dengan mobil pribadi lewat pos perbatasan seolah-olah hendak belanja. Di Tebedu, korban dijemput anggota sindikat dengan mobil Malaysia.

Enam dari delapan korban trafficking yang kami temui di penampungan Konsulat Jenderal RI di Kuching menyebutkan, mereka masuk ke Malaysia dengan modus ini. Mina (23), juga bukan nama sebenarnya, dibawa Diana dan Tus—keduanya warga Entikong—melewati gerbang Entikong awal Februari 2008. ”Kami naik mobil Kijang merah. Diana dan Tus seperti sudah kenal petugas di perbatasan. Kami tidak diperiksa,” kata Mina.

Kepala Kepolisian Sektor Entikong Ajun Komisaris Miko Indrayana mengakui, bebasnya warga Entikong keluar-masuk pos perbatasan tanpa pemeriksaan paspor rentan disalahgunakan. ”Kami sudah menangkap beberapa pelaku yang akan menyelundupkan orang lewat pos. Korbannya sebagian anak-anak,” ujarnya.

Lebih repot lagi adalah menangkal masuknya korban trafficking yang sudah dibuatkan paspor oleh anggota sindikat. Karut-marut pendataan kependudukan mempermudah pembuatan paspor aspal, asli tapi dengan data palsu.

Seli (16), korban trafficking asal Indramayu, mengaku dibuatkan paspor oleh agen TKI di Jakarta. Namanya diubah, umurnya dituakan menjadi 21 tahun.

Banyak celah untuk menyelundupkan korban ke Malaysia. ”Mobil bernomor polisi Malaysia biasanya tak dihentikan oleh polisi di pos Serian. Yang dihentikan hanya mobil bernomor polisi Indonesia,” kata Ade Alhatta, sopir truk Entikong-Kuching.

Hari itu, Jumat, 9 Januari 2009, tak ada pemeriksaan di pos polisi Malaysia di Serian. Mobil yang kami gunakan melenggang dari Tebedu hingga Kuching. ”Memang tak tiap hari ada pemeriksaan,” kata Ade.

Begitu korban trafficking berada di wilayah Malaysia, mereka dengan mudah dipindahtangankan dan diperlakukan semaunya oleh anggota sindikat. ”Ribuan orang Indonesia diduga terjerat jaringan sindikat trafficking ini,” kata Komisaris Hendra Wirawan, perwakilan Polri di Kuching. Di sana, perempuan-perempuan itu disiksa dan dilacurkan.... (C Wahyu Haryo PS)

16 Januari 2009

ceroboh

Begitulah komentar saya tentang berita2 ini
BBC
Antara
Seharusnya pengurus bisa lebih berhati-hati, dan ketika semua telah terjadi sebaiknya mengakui kesalahan saja, daripada menyangkal apa yang benar-benar terjadi. Kalau terbukti bohong akan lebih memalukan lagi.

18 November 2008

BUMI gonjang ganjing

Kalla ngganjingi, apa-apaan sih yang dikatakan Kalla ini. Ngono ya ngono, ning ya aja ngono lah.

Yusuf Kalla mengatakan pemerintah memiliki kewajibam melindungi semua pengusaha nasional termasuk kelompok Bakrie.

"Kalau ada pengusaha nasional yang ada kesulitan kita akan membantu dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, Jepang pun seperti itu. Jaman dulu Astra dibantu, BCA dibantu. Masa Bakrie hanya untuk satu dua hari masa tidak boleh?" ujar Yusuf Kalla.

Saya menyesal di posting2 sebelumnya memuji2 si Kalla ini. Ternyata benar-benar titisan Batara Kalla.

Ini adalah jawaban Tuhan atas kesengsaraan saudara-saudara kita yang terpapar lumpur Lapindo!


17 November 2008

ada udang di balik buy back BUMI

Posting sebelumnya tentang buyback, ternyata harus dicermati dengan seksama. Rasanya apa yang terlihat hanyalah permukaan belaka. Berbagai macam motif dibelakangnya yang sulit dinalar, antara lain:
1. Saham Bumi Resource(IDX:BUMI) yang dijadikan agunan oleh Bakrie untuk ngutang ke finance company di Singapur. Saham ini akhirnya harganya melorot seiring gonjang-ganjing krisis finansial.
2. Rupanya cerita Bumi Resource ini tidak berhenti di situ, IDX sampai memberikan perlakuan khusus kepada BUMI, perdangangan saham BUMI tetap disuspend walaupun suspensi perdagangan di IDX sudah dicabut. Dugaan saya hal ini untuk menjaga harga saham BUMI agar tidak melorot jauh, sehingga Bakrie bisa melakukan antisipasi. Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai dirumorkan mau mengundurkan diri gara2 ini, bravo mBak Ani!. Dikutip dari perspektif, (SM=SMI=Sri Mulyani Indraswari)

Di balik kegembiraan berita kemenangan Obama, Rabu pagi jam 7:30 Sri Mulyani (SMI) perintahkan BUMI dibuka suspension-nya. Lalu Bakrie 'naik banding' ke SBY. Jam 8:30 SBY perintahkan SM tutup lagi listing BUMI di bursa.

Sebagai bawahan SMI laksanakan perintah Presiden, tapi kemudian jam 18:00 ia mengajukan pengunduran diri dari Kabinet. Jam 20:00 SBY panggil SMI minta maaf dan minta dia tidak resign. SMI setuju asal pagi ini BUMI di-release. Maka terjadilah pagi tadi, walaupun tentu saja, dalam 10 menit BUMI sudah suspended lagi karena auto rejection.


Akhirnya keesokan harinya setelah rumor meluas suspensi BUMI dicabut juga, setelah disuspend dari tanggal 7 oktober 2008 s.d. 5 November 2008. Geblek.. regulator pasar dicocok hidungnya dengan semena-mena. Namun dunia tidak bodoh, lewat masa suspensi harga BUMI langsung terjun bebas, dari sebelum suspensi IDR2.875,00 menjadi IDR1.140,00 hari ini. Mari kita lihat berapa sebenarnya harga BUMI sebelum2nya. Menteri BUMN(Sofyan Djalil) mengatakan dalam sebuah artikel di detik, sayang tak berhasil saya temukan lagi bahwa dulu dia beli saham BUMI seharga IDR75,00.

3. Hari ini meneg BUMN, dilaporkan sebuah sebuah LSM ttg pemilikan sahamnya di BUMI, yang konon bakal dibuy back oleh pemerintah dengan uang BUMN. Weleh.., FYI BUMI sebelumnya adalah BUMN yang bergerak di sektor pariwisata. Entah bagaimana ceritanya ketika berpindah tangan ke Bakrie bisa begitu digdaya..menguasai berbagai bisnis pertambangan. Hukum2 ekonomi benar2 sulit diimplementasikan di bumi ini, terlalu banyak invisible hands!

27 Oktober 2008

Will it fall below IDR1,000.00?

Today's IDX composite index hit IDR1,166.41. It has fallen almost 50% from last month's value. It seem everybody went silent, even an investing milist which I join is silent as well. Maybe everybody busy on determining whether they'll do cut loss or cut loss. The bruise is too deep to hold the pain. It seems that hold is not an option, since uncertaintity is shadowing all stock exchange around the world, and it seems that the most of the player is merely small time operators with limited fund.


Uncertaintity seems very clear meanwhile dollar rate for buy and sell have range more than IDR1,000.00. Here is the snapshot from Bank Mandiri.

To be frankly, I glad with this dollar price, the higher the better, in a hope that it will stimulate export, and it will became a natural barrier for imported product for entering this country. We must aware that since dollar is weaking againts yuan, "made in china" wont be competitive in America, therefore we could be the next target of these rubbish.

Back to the stock, what the hell happened actually? Is this composite value depicting the real value of the companies, so in past days it was cooked to make it valuable enough to pull foreign credit and investment?

15 Oktober 2008

Even the Economics Guru must keep himself learning

I don't believe that he is Vincent Lingga. One of super senior imminent economics journalist, editor and [founder?] of the most respectable Indonesian english newspaper.
Even, his own article was published as special report:
In the current era of globalized financial markets, it is almost impossible for us, including me, an economics reporter for the last three decades, to have the financial literacy necessary to understand complex investment securities like the Lehman's market-linked notes peddled by Citibank Indonesia.
Not only in his working newspaper, even Kompas wrote his name as well.
Sebagai nasabah Citigold, Citibank Jakarta, Vincent Lingga, tak merasa akan terjebak kerugian Rp 450 juta. Tanggal 15 September, hari kebangkrutan Lehman Brothers, mungkin salah satu hari tergelap yang akan selalu dia kenang.
I do really honour him for his frankness, even though bitter :(. It will be a very good lesson for everyone, especially the smart asses and economics ignorants. Terima kasih Pak Vincent!

in God we trust, not His creatures
in gold we trust, not its derivatives

09 Oktober 2008

gitu dong..

Setelah idx disuspend gara2 IHSG turun 10% pemerintah merencanakan membeli saham2 BUMN! Baru tahu kalau kayak gitu namanya buyback. Bagaimanapun BUMN punya arti strategis buat bangsa ini. Milik negara gitu, dibangun dengan darah dan air mata(paling ndak galian kabelnya dimana2 yang bikin orang cilaka tanpa pernah protes). Hidup SBY deh! Jangan kayak me-gawat-i yang dulu malah menjual Indosat, sial bener bangsa ini. Konon indosat dijual 5T di 2004 kepada singtel oleh kroni me-gawat-i, via Laksamana Sukardi ex ketua IA-ITB(sebaiknya namanya di-jenang abang jadi Laksamana Sugali). Kemudian pada tahun indosat 2008 dijual singtel ke Qatar(Qtel) 16T. Gubrak! 4 tahun untung 200% si singtel! Si Mbak Gawat ini dulu dapat apa sih dari singtel? Karena masih suasana lebaran kita juga harus berbaik sangka, mungkin juga mbak Gawat ini dimanfaatkan orang2 sekelilingnya, jadi seperti lakon "Limbuk dadi ratu" .

Take this sinking boat and point it home we've still got time!

29 September 2008

Jusuf Kalla

Nice news that Kalla felt comfortable with SBY. I think they are the best match for 2009 onwards. Actually I prefer Kalla as president, but it is impossible to win the race against SBY. The best strategy is Kalla waits until 2014, meanwhile he does the best along with SBY.

I think people love SBY, especially farmers. During SBY-JK's rule, common agricultural commodities, such as corn, soya, rice, and cassava reach the best price. At least quoting my friend's father who has his son to pay tax as soon as possible meanwhile the president is SBY. It's a sincere and spontaneous action responding very good agricultural commodities prices. This sincere act is such a silent scream beneath negative news from media, and "populist" NGO.

What about JK?
I think he is a typical person that people dislike, such as Amien Rais. Maybe he is too frankly, even though his words are true, but his words are politically incorrect. His spontaneous comments and statements are smart indeed, but I think these are not grass roots consumption, just like Amien Rais'. Meanwhile he is working together with SBY, JK should shows his humble just as if he was came from middle or lower class. It's hard, since he came from rich(very rich) family. He should save his big laugh, that tends to insult poor people. He should learn to act like SBY, people love that cool SBY action. JK can pay a correographer for that manner.

I hope SBY-JK will work together until 2014, they've made a good foundation for corruption eradication. I hope in five years onwards their efforts and consistency can be enjoyed by all. KPK is my only hope to pull this nation from this pityful condition.

Selamat hari raya Idul Fitri. Taqobalallahu Minna wa Minkum.